Mahasiswa/I Teknik Sipil Sakura Science Program Batch II Universitas Bakrie bertutur cerita kepada Humas Universitas Bakrie mengenai hari pertama mereka di College of Engineering, Nihon University di Koriyama, Jepang.

Pada tanggal 5 Februari 2018 mereka tiba di Bandara Haneda dan dijemput oleh Prof Buntara menuju Chisun Koriyama Hotel dan langsung ke destinasi pertama, yaitu Nihon University. Andrian, salah satu peserta program bercerita dalam perjalanan mereka dengan Shinkansen sepanjang perjalanan dapat terlihat betapa hebatnya Jepang dalam bidang teknik sipil. “Kereta yang kami naiki sangat nyaman, tidak terasa bahwa kereta yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan +- 200km/jam dan rel kereta yang tidak menganggu jalannya lalu lintas sangat membuat kagum. Lebih hebatnya lagi ternyata memang benar bahwa disini itu semua bergerak serba cepat , teratur dan tepat waktu.” ujarnya lagi.

“Perjalanan ke Koriyama memakan waktu 2,5 jam. Sesampainya kami di Koriyama kami langsung ke hotel untuk check in dan pergi ke kampus Nihon University. Untuk ke Nihon University kami naik bus lagi- lagi sebuah moda transportasi umum yang sangat amat dapat diandalkan di Jepang. Sistem bus di Jepang sudah sangat mirip dengan sistem KRL di Jakarta , dimana orang me mbayar sesuai dengan jarak yang ditempuh/ nomor bus stop dan dapat dibayarkan dengan cash ataupun kartu.”

Sementara Aisyah Intansari mahasiswi Teknik Sipil angkatan 2015 ini tidak dapat melupakan pengalamannya menaiki Kereta Shinkansen, yang merupakan kereta tercepat didunia. Kecepatannya menempuh 200km/jam. “Kami menggunakan kereta shinkansen untuk menuju ke Koriyama dari Tokyo. Tokyo ke Koriyama sejauh kurang lebih 250 km dan hanya butuh waktu 2 jam untuk sampai Koriyama” kagumnya lagi.

“Cuaca disini sangat dingin yaitu minus 2 dan bersalju. Sesampainya di Nihon University, Prof Buntara memberikan campus tour. Kelas kelas di kampus ini sangat besar, masih menggunakan papan tulis hijau Selain campus tour, kami juga makan siang bersama di Nihon University menggunakan vending machine. Kami juga diperlihatkan Tensegrity Structure karya Prof Buntara.”

Lain cerita Aisyah, lain cerita Bangun, mahasiswa angkatan 2015 yang juga aktif di Himpunan Mahasiswa “Kami semua disambut dengan sunrise yang sangat begitu indah, sehingga kini saya tahu mengapa negara Jepang dijuluki "Matahari Terbit" , selain itu walaupun suhu sekitar 2 sampai 4 derajat kami melihat Gunung Fuji yang menjadi ikon negara Jepang itu sendiri.

Sementara Ruben mengaku agak kesulitan beradaptasi dengan banyak hal yang baru baginya di Jepang, “Saat menuju Koriyama dari Haneda, menggunakan shinkansen, saya amat terkejut dengan pergerakan orang orang jepang yang sangat cepat untuk setiap pemberhentian pada stasiun tertentu hanya 5 detik, lalu kereta berjalan kembali, sehingga saya agak kesulitan dalam mengikuti rombongan saat itu dan sekaligus terkejut karena dinginnya ketika musim dingin. Dan ketika saya di Shinkansen, tidak sengaja melihat orang orang menyebrang lampu lalu lintas, rupanya mereka sangat tertib”.

“Saya menyimpulkan mereka sangat menghargai waktu, tidak boleh sedikitpun lengah, semua harus serba cepat dan juga tidak lupa saling menghormati sesama. Hal itulah yg mungkin membuat negara tersebut maju, walaupun terjadi Bom Nagasaki dan Hiroshima, Tsunami 2014, mereka dapat bangkit dan tidak membuat mereka mundur, itu juga yg membuat saya kagum.” tambahnya lagi.