Universitas Bakrie mendapatkan hibah untuk dana riset perguruan tinggi sebesar Rp 3,2 milliar, tertinggi untuk jumlah hibah di kalangan PTS wilayah Kopertis III dari Kementrian Riset Teknologi , dan Pendidikan Tinggi (Kemristek Dikti). 

Dana tersebut merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan sehingga dalam pelaporannya harus sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang sudah ditetapkan oleh Kemristekdikti, oleh karena itu Universitas Bakrie mengundang Reviewer Nasional dan Rektor Universitas Budi Luhur Prof. Dr. sc.agr. Ir. Didik Sulistyanto untuk memberikan pengarahan dalam acara “Seminar Pengarahan Teknik Pelaksanaan Penelitian Hibah 2018 dan Klinik Proposal 2019” di Ruang 1 dan 2 Universitas Bakrie (21/5).

Universitas sudah seharusnya memiliki sentra HAKI, penelitian yang awalnya di hulu kini harus diterapkan di hilir, secara garis besar proses penelitian ristekdikti tidak berubah tapi secara teknis terus diperbaharui sehingga dosen-dosen harus aware terhadap perubahan tersebut atau menyesuaikan dengan peraturan yang terbaru, ujar Prof Didik.

Prof Didik mengatakan saat ini peneliti harus bisa merubah paradigma riset, dari riset berbasis proses menjadi riset berbasis output, merubah mindset dari produktifitas rendah meningkat jadi produktifitas tinggi.

Masalah-masalah utama adalah penganggaran riset secara administratif lebih rumit dan substansi, tidak ada jaminan keberlanjutan anggaran riset jangka panjang, sehingga beliau memberikan masukan untuk merancang penganggaran riset block grant sehingga ada jaminan kepastian riset yang dapat dilaksanakan multi years.

Selain memberikan pengarahan mengenai penganggaran riset, Prof Didik juga memaparkan teknis penelitian dari laporan anggaran hingga perhitungan pajak yang harus dibayarkan. Hasil penelitian atau luaran itu bernilai 25% dari penelitian, ujar beliau lagi.