fbpx

Menghadapi Perubahan Iklim Global dengan Kebijakan dan Inovasi pada Lingkungan

Saat ini perpolitikan di dunia tidak lagi hanya terfokus dengan hubungan antar negara, tetapi isu lingkungan dan perubahan iklim global pun menjadi isu panas dalam hubungan internasional. Global climate change atau perubahan iklim global saat ini menjadi salah satu topik yang perlu diperhatikan oleh seluruh negara di dunia karena menjadi sebuah tanggung jawab yang harus diemban bersama. Negara-negara di dunia kini juga mulai membuat kebijakan yang mendukung pelestarian lingkungan yang memungkinkan aktivitas manusia, terutama bidang ekonomi, berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan dan pencegahan memburuknya perubahan iklim.

Beragam inovasi pada teknologi pemanfaatan energi saat ini dilakukan oleh beberapa negara, terutama Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, salah satu sosok yang mengembangkan teknologi untuk mengubah suatu energi alami menjadi energi lainnya adalah Irwan Sjarkawi, Presiden Komisaris PT Bakrie & Brothers Tbk. Sejak tahun 1993, Irwan, bekerja sama dengan salah satu perusahaan teknologi Jepang, mengembangkan sebuah proyek pembentukan energi dengan pemasangan wind turbine di beberapa tempat di Indonesia, yaitu di Megamendung, Bogor Nirwana Residence, dan Menteng. Wind turbine ini berasal dari perusahaan tersebut dan proyek ini dilakukan di Indonesia karena kekuatan angin Indonesia dianggap cukup baik untuk memutar baling-baling wind turbine yang dapat menghasilkan energi listrik. Selain itu, ia juga memiliki lima panel solar cell yang juga membentuk energi listrik dari energi matahari dengan daya sebesar 205 watt setiap panelnya. Baik wind turbine maupun solar cell ini pada dasarnya dapat membantu pasokkan energi listrik yang tentunya ramah bagi lingkungan.

 

Lima panel solar cell yang terletak di atas karavan yang terletak di project house milik Irwan Sjarkawi, Menteng, Jakarta Pusat.

Di Project House miliknya yang terletak di Jalan Dr. Kusumaatmadja No. 6a, Menteng, Jakarta Pusat, terdapat pula kolam yang digunakan untuk menanam algae yang dapat diubah menjadi bahan bakar. Ide ini didapat Irwan dari salah seorang tamunya yang berasal dari Amerika Serikat, bernama Christine. Untuk melakukan penelitian ini dibutuhkan air, benih algae, dan gas CO2 yang di mana gas ini memiliki kadar yang cukup tinggi pada udara di Jakarta. Irwan pun membuat beberapa rumah dari kontainer yang menyerupai karavan yang ia rancang sendiri, bahkan salah satunya merupakan karavan yang bisa dilipat dan dipindah tempat. Karavan-karavan ini pun menjadi tempat yang sering menjadi pilihan menginap bahkan oleh tamu-tamu mancanegara. Rumah ini memiliki ukuran yang serupa dengan ukuran satu kamar, namun berisi kasur, kursi, televisi, meja kerja, dan toilet.

“Rumah-rumah ini sebenarnya bisa menjadi alternatif dalam menghadapi kepadatan penduduk di Indonesia karena rumah ini tidak permanen, bisa dipindah, dan tidak memerlukan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan). Bahkan di Jepang pun, apartemen yang biasa ditempati suatu keluarga (ayah, ibu, dan anak-anaknya) ukurannya kurang lebih sebesar ini. Harusnya ini bisa menjadi perhatian pemerintah untuk membuat kebijakan dalam menghadapi kepadatan penduduk.” ujar Irwan saat ditemui di tempat penelitiannya pada Kamis (3/8/2017).

Irwan Sjarkawi sedang memberikan penjelasan tentang project house-nya kepada mahasiswa anggota FPCI Universitas Bakrie.

Apa yang dikembangkan oleh Irwan Sjarkawi merupakan sebuah usaha positif untuk mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan. Hal ini pula menjadi tantangan bagi para pemuda yang akan menjadi penggerak dalam pembentukan kebijakan-kebijakan di pemerintahan. Pemuda-pemuda ini nantinya harus mampu menjawab pertanyaan mengenai bagaimana mengembangangkan kebijakan yang dapat mengakomodir semakin pesatnya perkembangan teknologi tetapi tetap menjaga dan melestarikan lingkungan.

Selain itu, bagaimana mendapatkan teknologi yang ramah lingkungan dengan harga murah sehingga dapat diaplikasikan oleh warga negara mengingat teknologi dan inovasi ramah lingkungan saat ini masih mematok harga yang sangat mahal. Selain itu, fokus negara-negara di dunia yang tergabung dalam diskusi-diskusi PBB adalah bukan lagi hanya mencoba menyelesaikan permasalahan manusia untuk mendapatkan kehidupan yang baik, tetapi juga bagaimana melanjutkan kehidupan dengan segala kebutuhan dasar yang layak dan ramah lingkungan.